Mencari 'Gusdur' di Bolsel



Bicara Bolaang Mongondow Selatan memang sedikit menarik meski cukup sensitif, terlebih dengan hadirnya gelombang pasang gerakan kepemudaan yang hari ini makin aktif. Dan untuk pertama kali di tulisan receh ini, sekali lagi, receh tidak pake web atau apapun itu saya sedikit ingin melihat Bolsel dari sisi toleransi; saya cukup puas menulis untuk publik menggunakan SEO di website.

Bicara toleransi berarti bicara soal hal kebatinan, jelas. Karena toleransi adalah sesuatu yang tersembunyi dan hanya bisa nampak dari laku dan lakon hidup seseorang; suatu tindakan yang lahir dari  dasar kesadaran atas suatu perbedaan.

(Sebelum lanjut, saya ingin bilang semua isi tulisan ini murni pake jurus 'Hermes'.)

Next, Gusdur membawa toleransi bukan sebatas pemahaman sempit soal melihat suatu perbedaan. Melainkan mengejewantahkan suatu nilai kemanusiaan. Sebagai seorang Cendekiawan, jelas membuat Gusdur sering terpikat dengan sesuatu yang tidak diketahuinya. Semakin asing hal itu, semakin Gusdur merasa tertarik. Hal itulah, menurut saya, membuat Gusdur melihat Indonesia sebagai tempat yang akan selalu membuatnya jatuh cinta. Karena Indonesia memiiki keragaman sosio-kultur yang kaya.

Sayangnya, paradigma Gusdur saat melihat sesuatu yang asing tidak seperti kebanyakan orang. Kebanyakan orang sering melihat hal yang asing dan berbeda begitu sangat eksklusif. Cara pandang eksklusif ini kemudian sering berujung pada rasa kebencian, sebab kebanyakan dari kita menolak proses kognitif untuk melihat perbedaan tadi sebagai sesuatu yang menarik. Proses penolakan itu, yang ingin saya ajak kawan-kawan sekalian menyepakatinya sebagai suatu gambaran 'Primitif' bangsa ini.

Para pengagum awal, akan melihat Gusdur sebagai sosok yang sangat toleran terhadap agama, dia punya track record banyak dalam menuntaskan permasalahan yang menyudutkan kaum marginal dan minor yang ada di seantero negeri ini.

Bolsel yang Plural? 

Dan bagaimana dengan Bolsel? Apakah Bolsel sudah merepresentasikan soal nilai-nilai toleransi seperti yang Gusdur bawa? Apakah nilai toleransi itu benar-benar gambaran kita? Ataukah sebatas cita-cita pemerintah dan hasil rancangan Bappeda Bolsel yang ingin membuat Bolsel sebagai rumah semua golongan? Terlebih Bolaang Mongondow Selatan merupakan kabupaten di Sulawesi Utara yang memiliki jumlah pemeluk agama Islam terbanyak, mencapai angka 94 persen, jelas ini menjadi tantangan tersendiri. 

Mari kita jawab, dikit demi dikit. Jika kalian berkunjung ke kabupaten ini, teman-teman akan mendapati 3 corak kultur di tanah ini. Pertama di sisi barat pintu masuk Bolsel kawan-kawan akan mendapati masyarakat kultur Hulondalo, bahasa Gorontalo menjadi bahasa di kawasan ini. Jika teman-teman masuk lewat pintu Timur kalian akan mendapati masyarakat dengan kultur Mongondow. Di antara kedua suku ini, bermukim masyarakat dengan kultur Bolango. Dan ketiganya sudah hidup berdampingan ratusan tahun.

Jadi wajar bila warga Bolsel secara histories tidak asing dengan suatu perbedaan. Hal itu tentu terpatri pada laku hidup bermasyarakat yang plural. Gusdur sendiri tidak pernah menjadikan perbedaan sebagai suatu bentuk pemahaman, sebab menurut Gusdur menerima perbedaan merupakan suatu tindakan, atau yang Gusdur sebut sebagai Pluralitas.

Namun di tengah kondisi penerimaan ini, ada sentimen antar kultur yang tersembuny rapi. Sentimen antar kultur ini seolah menjadi bom waktu, yang kapan saja bisa meledak. Bukan dalam perang, tapi dalam hal tindakan persekusi terhadap hak-hak golongan tertentu. Mungkin banyak yang bilang kekhawatiran ini berlebihan, tapi sangat naif dan munafik rasanya jika menafikan keadaan itu. Dan tentu saja  ini menjadi PR kita bersama.

Lanjut, sejauh ini belum ada data yang menilik lebih jauh terkait tingkat toleransi di Bolaang Mongondow Selatan. Ini juga menjadi PR bagi para pegiat dan penggerak pemikiran Gusdur Bolsel ke depannya. Kerukunan antar umat beragama bukan hanya sebatas menerima keberadaan semata, melainkan memberi ruang untuk setiap pemeluk agama untuk berkembang.

"Mungkin banyak yang bilang ink kekhawatiran berlebihan, tapi sangat naif dan munafik rasanya jika menafikan keadaan itu."

Tanah Bolaang Mongondow Selatan menjadi gambaran toleransi dengan simbol bangunan, setidaknya itu terlihat dari semangat pemerintah saat menyelesaikan 3 rumah ibadah megah dengan anggaran fantastis yang terletak di Panango. Tak lupa juga ornamen jalan yang bertuliskan sifat-sifat Tuhan kaum Muslim dan beberapa Pasal dan Ayat dalam Kitab kaum Kristiani.

Di Bolaang Mongondow Selatan sendiri tercatat sudah ada satu Pura megah yang dibangun, ada kurang lebih 105 Mesjid dan 60 gereja yang tersebar di 7 Kecamatan. Tapi anehnya data ini tidak tertuang dalam data BPS Bolaang Mongondow Selatan.

Tetapi masalah sering timbul saat pemeluk agama tertentu yang kebetulan minoritas ingin sedikit bergerak lebih leluasa di suatu tempat, masyarakat mayoritas biasanya keberatan dengan kehadiran agama lain tersebut.

Kasus Persekusi di Bolsel

Seperti kejadian yang terjadi di Desa Saibuah Kecamatan Posigadan beberapa tahun lalu. Seorang kakek diserbu warga karena tersiar kabar kakek non muslim yang tinggal di desa itu berencana membangun gereja. Dari hasil keterangan beberapa orang yang menjadi saksi, kakek tua yang sudah hidup puluhan tahun di desa itu mengalami tindakan kekerasan, dia bahkan dicekik oleh salah seorang warga desa yang marah berinisial KB. Warga desa yang marah itu terbilang berpendidikan, tak tanggung-tanggung dia lulusan universitas agama di Gorontalo.

Kondisi terjepit oleh mayoritas itu membuat si Kakek memutuskan menjual rumah dan tanahnya. Kata orang-orang tak lama berselang kakek itu jatuh sakit dan meninggal. Ini cuma satu contoh tentang kasus persekusi yang terjadi, kita memang tidak sedang menggali intoleransi di Bolsel, tapi berupaya mengukurnya.

Apa yang akan dilakukan Gusdur jika berhadapan dengan kondisi itu? Mungkin dari kita akan merujuk pada 9 nilai utama pemikiran Gusdur.

Ada banyak hal yang patut diulik dari tanah selatan Sulut ini, sebanyak hal baik yang bisa diteladani oleh Kabupaten yang dipimpin oleh Iskandar Kamaru itu.

(Dwi Manoppo) 

Komentar