Yang di tunggu akhirnya turun juga. Hujan kedua. Mengguyur tanah yang belum sempat kering seutuhnya. Menambah genang air. Tanah mungkin telah cukup melepas dahaga sebelum Hujan kedua turun. Cahaya matahari pun sudah mulai menghilangkan rasa malunya untuk sesekali mengintip di balik gelapnya awan.
Aku masih menatap langit petang ini. Hujan kedua telah berhenti, namun gemuruh dan pertarungan masih terjadi di atas bumi. Gelap awan seolah menghalangi pertarungan besar yang terjadi di dalamnya. Hanya membagi Kekcauan itu dengan Suara dentuman tak beraturan.
Di permukaan bumi, hujan meninggalkan bekas. Genangan air memenuhi tiap sudut lekuk dan berlubang di atas tanah. Genangan yang memantulkan bayangan dunia dari permukaan airnya. Layaknya Cermin. Memantulkan semua gambaran dunia di atas permukaannya. Dan tiap gambaran itu tergantung dari sudut pandang mana kau memandangnya. Cara terbaik menatap langit dengan mendekati genangan air, menatap kebawah untuk melihat langit yang diatas. Dimana sekaligus aku melihat gambaran diriku. Namun gambaran diriku hanya sebatas siluet, meski latar cahaya langit sangat redup nan sebam.
Di temani aroma petrikor yang tersisa, aku menaruh tanya pada tubuh yang mulai lelah memahami maksud dunia. Pada seonggok daging didalam dada yang menghasilkan perih kala menikamati engkau dari kejauhan. Menyeduh rindu. Meski ku tahu ini hanya sebuah alur eskapisme semata. Kita cenderung menghindar dari kenyataan, menciptakan dunia penuh rekaan untuk menguatkan goresan episode yang tabu ini.
Masih terngiang, hempasan dan jeritan kekecewaan mu saat bagian terasional dalam diriku mencoba memaknai esensi dari narasi-narasi “kita”. Aku dan kamu hanyalah sepasang bodoh yang menolak waras. Membangun menara gading yang cukup memukau mata. Namun seperti pribahasa “tak ada gading yang tak retak”, kita hanya menunggu untuk runtuh.
Mencoba beringas melawan kerasnya arus dominan. Menunggu lumpuh dan tersapu arus menjadi buih-buih yang tak berarti. Demikian ketakutan tubuh ini, dan ku tahu dikau pula demikian.
Walau memang tiada cerca, tapi negasi demi negasi akan selalu lahir. Bagaikan hujan yang akan menemukan kemaraunya.
Tapi tenanglah, ibarat sebuah sayap, kita adalah sepasang sayap yang tak mengenal patah. Jika pun kita harus jatuh, setidaknya kita tahu bahwa kita hanyalah sepasang sayap yang kehilangan angin untuk terbang. Rasa itu masih bisa untuk di perjuangkan, sebab kita bisa menjadi langkah untuk terus berjalan.
Di balik sebam sore ini, langit jingga seolah pergi mengkhianati Senja. Ada untaian-untaian yang terus mengusik. Resak yang hadir pada keinginan pribadi. Kala ego berbisik untuk memasung rasa yg kian hari kian mengental. Namun Deretan alur telah kau suguhkan, mulai dari fase tentang kita hingga tiap sudut-sudut ruang bumi yang akan kita singgahi, Menorehkan Sumpah dan sebagai saksi sejarah dari rasa yang orang lain anggap Tak mungkin.
Aku tak butuh kewarasanku, untuk mengiyakan semua itu. Sebab lekuk dan gerakan tubuhmu saat membagi khayaalan itu, sudah cukup untuk ku mengucap kata “iya”. Bayangan dari getir-getir kenyataan, tak cukup mampu mengalahkan rekaan dan harapan yang berbalut senyum penuh mimik keyakinan.
(26 Desember 2018)

Komentar
Posting Komentar