Menjual Diri Kepada Ketidaktahuan
Ketika ketidaktahuan diberikan hak untuk bicara maka dipastikan dunia akan dipenuhi dengan kehampaan, namun meski ke-tahu-an diberikan hak yg sama untuk bersuara dunia tidak pula akan dipenuhi oleh kesadaran, melainkan sebuah kebingungan.
Ketidaktahuan melambangkan kepasrahan, yang dalam realitas pasrah tak lain bagian dari berbagai kehidupan yang kompleks. Di dunia imajiner dan yang ideal sebuah ketidaktahuan merupakan kecacatan, dan seperti lubang yang harus segera ditambal sebelum melebar dan menciptakan lubang yang menganga, semakin lebar lubang itu maka semakin cepat pula kebingungan-kebingunan itu terhisap dan terhempas dari dunia imajiner dan ideal itu, dan tanpa kebingungan dunia imajiner dan ideal menjadi realitas yang begitu kejam.
Kekejaman realitas akan terasa saat kebingungan-kebingungan itu jatuh tepat di kubangan ketidaktahuan seperti biskuit yang masuk kedalam segelas kopi pahit yang panas. Memang terdengar seperti guyonan, tapi lelucon yang dilakukan oleh ketidaktahuan menjadi terlalu populer dan mengakar untuk sekedar dikesampingkan, bukan.
Langkah paling pasti, yakni menjual diri pada kebodohan. Dengan demikian sakit atas ketidaktahuan yang akhirnya menggerayangi setiap batang tubuh dan "tahu" itu tidak akan meninggalan sayatan-sayatan yang begitu dalam.
Dan kita semua harus tiba di hampir sampai.

Komentar
Posting Komentar