Mrs. Bleeding

Perempuan hamil datang tanpa perut hamilnya. Semua orang menatap keheran ke arahnya, dan tentu saja ke arah perutnya. Dia melangkah dengan tertatih, sambil membungkuk. Sepertinya dia sedang menahan sakit, itu bisa terlihat dari wajah dan tangannya yang sedang memegangi perutnya.



Dia mengenakan Dress putih yang sudah dipenuhi darah. Darah mengalir dan menutupi paha putihnya hingga ke sepatu Conversenya, dari area yang penuh darah jelaslah darah itu mengalir dari selangkangannya.


Darah itu mengalir terus sembari gadis manis dengan mata coklat itu melangkah. Tiap langkahnya membuat lantai Mesjid yang setiap hari dibersihkan oleh Pegawai Syarah itu harus rela dipenuhi darah.


Semua orang menjadi gempar, mendadak Mesjid itu menjadi bergemuruh, suara orang-orang saling bersahut-sahutan seperti bunyi kurumunan lebah yang sedang terganggu akibat sarangnya diasapi.


"Ini bejat"

"Pendosa"

"Dia memang tak tahu diri"


Perempuan itu terus melangkah, kini dia telah sampai ke tengah Mesjid. Tak ayal darahnya pun membasahi sajadah panjang hasil pengadaan dana desa tahun kemarin yang desas-desus para warga sedang bermasalah karena Kepala Desa mengorupsi anggaran desa itu untuk menutupi hutang ratusan juta yang dipakainya buat membeli suara rakyat pada pemilihan kades 2 tahun lalu.


Tak lama, Pak Imam yang berdiri tepat di atas mimbar tersadar dari keheranannya. Pak Imam itu kemudian langsung meneriaki si perempuan yang sedang kesakitan itu.


"Cahaya..?!"

Perempuan itu menghentikan langkahnya.

"Kemana isi perut kamu?"

"Sudah kembali kepada yang punya Pak Imam"

"Kenapa Kamu kembalikan?"

"Di sana dia diterima dan di sini tidak"

"Kamu tahu dari mana itu diterima atau tidak?"

"Saya bicara padanya barusan"

"Kapan?"

"Sekarang Pak Imam"


Jawaban itu sontak kembali memecah suara orang-orang dalam Mesjid.


"Biadab"

"Mati saja"

"Neraka jahanam"

"Binatang"


Umpatan-umpatan itu dibarengi dengan lembaran Peci dan Sajadah ke arah Perempuan itu, tak ada batu apa saja yang bisa dilemparpun jadi, demikian alasan orang-orang yang geram dengan perempuan itu.


Si Wanita hamil itu pun tak bisa menahan tubuhnya yang sedang berdiri, kaki gemetar itu pun hilang keseimbangan saat dihantam dengan puluha peci para jamaah rutin di Mesjid itu. Perempuan itu tertugun lemah. Darahnya menjadi lebih banyak membasahi sajadah panjang itu, hempasan mendadak saat jatuh terduduk membuat darah mengalir lebih banyak dari selangkangannya.


"Kenapa kamu ke Mesjid ini?"

"Aku mencari Tuhan"

"Bukankah kamu harusnya ke Rumah Sakit?!"

"Tuhan tak bisa mengantar saya ke rumah sakit"

"Terus kenapa kamu mencari Tuhan di sini?!"


Perempuan itu tak menjawab, perlahan airmatanya jatuh. Sambil tetap memegang perutnya dia merintih sejadi-jadinya. Darah nya pun terus mengalir, kali ini darah itu sudah mengalir sampai ke luar mesjid. Orang-orang di luar Mesjid yang sedari tadi juga menyaksikan histeris sambil berjinjit menghindari terinjak darah itu.


"Darah pendosa awas!"

"Waduh Sendal baruku"

"Woi jangan dorong-dorong"


Tak lama berselang Pak Imam kembali bertanya. Kali ini dirinya sudah melepaskan sorban di kepalanya. Semakin banyak orang yang datang semakin membuat mesjid menjadi sesak dan penuh tak seperti hari biasanya yang saat sholat hanya terisu setengah sahf saja. Meski harus berdesak-desakan dan kepanasan setiap orang tetap tak beranjak.


"Di sini tempat sholat, kamu harus suci untuk bisa melangkah kemari"

"Apakah aku tidak suci?"


Mendadak terdengar teriakan orang-orang.

"Kamu tidak suci binatang"

"Anjing kamu"

"Tak pantas menghadap Tuhan"

"Allah Akbar!!"


Takbir ratusan warga membuat mesjid menjadi begitu rusuh. Suara takbir itu membuat atap seng mesjid bergetar dan mengeluarkan bunyi besi yang menambah bising saat Takbir untuk Tuhan itu diteriakan.


Takbir itu terus terdengar beberapa jam hingga tak terasa langit telah memerah. Selama itu pula seluruh permukaan dilantai dan sajadah di dalam Mesjid itu telah memerah dipenuhi darah.


Seorang pegawai Syarah bergegas keluar dari kerumunan. Berlarilah dia ke arah samping mesjid. Diambilnya pentungan beduk dan mulai memukul beduk itu. Bunyi beduk menghentikan suara takbir orang-orang. Semua berhenti dan kini digantikan dengan suara ngos-ngosan orang-orang itu.


Pak Imam yang sudah tersadar dari teriakan takbir yang begitu Emosional itu kembali bertanya.


"Cahaya?!"

"Cahaya?!"


Kali ini tak ada jawaban. Cahaya hanya tertugun tanpa suara.


"Coba di cek, siapa yang besediah?"

"Saya Pak Imam"

"Coba cek, kenapa dia tak bersuara?"

"Pak Imam..."

"Ya, kenapa dia?"

"Dia sudah meninggal"


Semua umpatan kembali tertuju, tapi kali ini dibarengi dengan kata-kata iba. Semua orangpun menangis, meski menggerutu mereka tetap menguluarkan airmata mendengar perempuan itu telah berpulang kepada pemiliknya.


"Baiklah, kita bersihkan seadanya tempat ini, sudah mau lewat Magrib"

"Pak Imam lalu jasad ini?"

"Kita kebumikan secara baik-baik"

"Dia Mati karena mencintai laki-laki yang salah"


"Astagfirullah, laki-laki itu berarti yang membuat dia mati?"

"Yah, dia mati dibunuh"


Semua orang langsung marah, dengan sigap ratusan orang berlarian kembali ke rumah mereka. Mereka kemudian kembali dengan membawa parang, golok, linggis, sampai pisau dapur.


"Kita bunuh laki-laki itu!!"

"Iya, tapi kita selesaikan sholat yang lain di Mesjid dulu"


Selepas Magrib, ratusan orang itu beramai-ramai memuju ke tempat laki-lali yang dianggap bertanggung jawab itu. Kilauan parang dan golok yang dipantulkan oleh lampu-lampu rumah warga membuat jalanan seolang dipenuhi oleh gemerlap bintang-bintang. Pada malam yang diselimuti gelap itu, orang-orang menuju rumah laki-laki yang disangkakan.


****

FriksiDiksi

Manoppo

Komentar