Anak-anak Waktu

Matanya yang coklat mulai memudar, seperti hitam rambutnya yang kini juga telah memutih ditelan waktu. Kurus dan keriput. Orang memanggilnya Hite Ude', nama aslinya Adam. Dia duduk di sampingku sore itu. Di ruang tamu rumah bapakku, kami bicara banyak tentang masalalu.




***


Adam atau yang lebih dikenal Hite adalah seorang pria yang lahir 80 tahun lalu di Sogitia, sebuah desa kecil (dulu) pedalaman Bone Bolango. Kata Hite, ayahnya berasal dari dararan Suwawa. Entah dari mana asalnya, yang pasti Hite yakin mereka dari tanah orang-orang merdeka.


"Ayah saya Duhari Manoppo, atau biasa disapa Amura, harta kami dulu banyak, sepanjang Monano hingga Taluda'a. Bapak saya bahkan punya Sapi yang banyak dan perkebunan kepala sepanjang jalur selatan itu" kenang Adam.


Adam melanjutkan, kini semua harta benda itu telah habis kata dia, dijarah oleh para warga kala Indonesia merdeka. Bebasnya Indonesia dari penjajah juga membuat rakyat bebas dari semua bentuk kepemimpinan. Demokrasi menembus kampung-kampung pedalaman dan menggeser aturan hidupnyang sudah berlangsung lama.


Adam yang saat itu mulai menginjak 10 tahun sudah mulai memahami tentang mulai berubahnya kultur orang-orang pedalaman saat itu. Ketika gema kemerdekaan menembus pemukiman-pemukiman kecil di dalam hutan itu, etika masyarakatpun didaur ulang. Atau lebih bida disebut di dekonstruksi.


Dia masih ingat betul, para ajudan bapaknya satu demi satu hilang. Semakin terperosok dengan budaya kehidupan yang baru membuat Amura akhirnya meninggal dunia, meninggalkan anak semata wayangnya Hite.


Kata Hite, dulu pesisir selatan merupakan tempat terbaik untuk bersembunyi dari para penjajah. Banyak pasukan griliya terbentuk dari kelompok-kelompok pemuda di pemukiman-pemukiman pedalaman itu. Meski, Hite bukan salah satu Pasukan Griliya itu, tapi dia tahu betul seberapa berkontribusinya pasukan-pasukan itu atas kemerdekaan negara Kesatuan Republik Indonesia.


Sebagai seorang Ahlu Dikili sejak muda, Hite sudah berkeliling hampir di seluruh pelosok pemukiman di pantai selatan, sebelum akses jalan dibuka. Kenang Hite, untuk bisa menuju Kota Gorontalo mereka harus menempuh perjalanan 5 hari 5 malam jalan kaki, menyusuri semakbelukar, menyebrangi sungai, hingga berjalan di tepi pantai yang penuh karang.


Sering bepergian membuat Hite melek aksara. Dulu bahkan, orang-orang yang sudah bisa berbahasa melayu sudah luar biasa, dan Hite mungkin bisa menyombongkan diri. Tapi alih-alih sombong kemampuan itu membawa mereka pada kondisi yang tidak mengenakan pada tahun 60-an. Saat itu Pemerintah Orde Baru lagi gencar-gencarnya menumpas gerakan PKI. Genosida kaum haluan kiri itu bahkan masuk sampai pelosok desa.


Kenang Hite, dirinya selalu dipaksa tengah malam buta untuk turun ke desa--mengingat Hite tinggal di kawasan perbukitan tempat dia bercocok tanam--untuk menghadap para tentara yang memburu para anggota PKI, sebagai seorang melek huruf dirinya sering dituding terlibat dalam gerakan partai yang dipimpin Oleh D.N Aidit itu.


Membicarakan tentang PKI merubah raut wajah Hite, ada ketakutan yang nampak. "Jangan sebut-sebut PKI". Dia lanjut bertanya sambil berbisik, "kamu PKI?". Di senja yang mulai mendekati Magrib itu dan lampu belum juga dinyalakan menambah "sesuatu" pembicaraan itu.


Lanjut Hite.


Hanya bermodalkan lampu obor, di rumah salah seorang warga, para pemuda digilir untuk diintrogasi tentang kemungkinan keterlibatan mereka dengan partai palu arit itu. Dan setiap kali ditanyakan, Hite akan selalu menjawab bahwa mereka hanya dilibatkan dan tidak terlibat penuh, mereka sebatas tahu namun tidak mendukung. 


Meski PKI sering masuk hingga ke pelosok-pelosok kampung, namun kata Hite, sebagai daerah dengan kuktur keagamaan yang kuat membuat partai "kesetaraan petani" itu kalah dari PSII atau Partai Serikat Islam Indonesia yang dimana Hite menjadi pendukung setianya.


***


Kini Indonesia sudah sangat berkembang, sistem keningratan di tanah Indonesia bagian Utara benar-benar telah dikikis oleh demokrasi. Hutan yang dulu menyelimuti kawasan pantai selatan telah menjadi aspal, Gunung-gunung telah menjadi gedung menjulang, dan penjajah ataupun kisah gelap PKI telah usai ditelan zaman. Layaknya usia Hite yang terus menua.


Semakin tua, Hite semakin tak kuasa atas tubuhnya. Dirinya sering kedapatan tengah duduk di atas ranjang dengan celana yang sudah basah dengan kencingnya sendiri. Tak jarang, dirinya sulit membedakan mana kamar mandi dan mana lemari baju. Semakin tua, semakin tak kuasa. Jalanyapu sudah tak selembayu dulu. Kini hanya untuk menuju ruang tamu dari kamarnya Hite harus tertatih-tatih melangkah.


Menua, menyisakan kisah-kisah lampau dan ditemani Alzeimer yang kian menjadi kawan akrab.


Komentar