Tumbilotohe, pelita ditengah Covid 19

Tumbilotohe, pelita ditengah Covid 19.

Pijarnya masih ada, berada didepan-depan rumah. Berbaris rapi. Ada juga yang bergelantungan, dengan susunan yang tak kalah indahnya. Meskipun memang tak semeriah dulu, tapi tradisi Tumbilotohe masih tetap dilaksankan.

Lampu botol yang bergantung di kiri dan kanan tiang-tiang Alikusu yang dipasang di depan pagar depan mesjid tua dan sederhana di kompleks pemukiman nelayan danau Limboto itu nampak berkelap-kelip dan penat ditiup angin dari arah danau. Meski begitu api dari lampu botol itu tetap berpijar, seolah dengan sabarnya nan bangga menerangi malam Laillatulkadar itu.

Kebiasaan yang kata kakekku sudah dilakukan sejak zaman dulu itu (setidaknya tradisi ini dimulai sejak abad kelima). Pemasangan lampu ini bertujuan menerangi jalan-jalan agar dapat menerangi dikalah warga berkunjung ke rumah-rumah untuk memberi ataupun menerima zakat di malam itu (mengingat zaman dulu nggak ada listrik). Dan juga tentu saja, cahaya lampu tersebut sebagai suatu simbol tentang Nur Perabadan yang dibawah oleh Nabi Muhammad, Nabi orang-orang Muslim.

Cahaya peradaban yang dibawah oleh Muhammad menerangi kegelapan jiwa dan kegelapan sosial bangsa Arab di zaman Jahiliah dulu. Dan tentu saja, berkat cahaya itu juga dunia menjadi lebih berabad. Cahaya itu tak lain ialah ilmu pengetahuan dan moralitas, dan tentu saja tentang sebuah hikmah.

Segelap apapun keadaan, suatu saat ada cahaya yang akan berpijar. Dimana cahaya itu akan mengajarkan kita tentang memaknai dan melihat hikmah dari setiap kegelapan yang ada. Dengan cahaya yang dibawah oleh Nabi Muhammad, dunia tetap terang meski ditrrpa berbagai kegelapan yang mencoba kembali. Cahaya yang dibawahNya itu abadi dan tersimpan utuh di setiap ayat-ayat Kitab Suci yang dibaca jika sempat dan selalu dilombakan tiap tahunya. Meskipun terkadang hikmah dari Tilawah yang dilakukan hanya sebatas projek kegiatan keagamaab demi bisa mencairkan anggaran.

Kembali ke soal lampu botol di alikusu yang penuh bunga-bunga itu, semoga cahayanya juga bisa menerangi kegelapan era ini.

Sebuah keadaan dimana berbagai gerak manusia semakin terbatas akibat pandemik Covid 19. Namun tak ada kata psimis. Api lampu botol Tumbilotohe itu mungkin bisa mengajarkan kita, meski dihempas angin yang membelai lembut cahayanya masih tetap bisa hidup dan menerangi.

Dimalam-malam pijarnya lampu tumbilotohe itu mungkin kita juga mengambil hikmahnya. Rakyat dan para pemimpin Negeri ini sebisanya mampu menghadapi tekanan kegelapan dalam jiwanya akibat pandemik yang entah kapan berakhirnya.

Ini juga berlaku pada para mahasiswa dan sederet aktivis ajimumpung yang doyan mengumbar pretensi demi bisa diakui bertaring, untuk lebih bisa waras. Menghentikan semua banyolan-banyolan itu. Dan ikhlas menerima kenyataan bahwa proyek demonstrasi hari ini memang sepi orderan. Hentikan semua jerih payah ngeluh atas nama keadilan karena memang jatah-menjatahkan lagi ditunda saat ini.

Dan akhirnya di paragraf terakhir ini, seperti para presenter dilayar TV, penulis dan jari-jari yang bertugas mengucapkan terima kasih dan  mohon undur diri dari hadapan mata. Sekian dan terimah kasih

Komentar